I'm just an ordinary girl. A delightfully dysfunctional individual who is filled with curiosity. And since I'm not a cat, it's not dangerous.

Hit Counter by Digits

2012 Reading Challenge

2012 Reading Challenge
Bernadette has read 0 books toward her goal of 50 books.
hide

Recent Tweets @kneeholette
Great Blogs
Posts tagged "Gus Dur"

Oleh: Valeria Martano

Abdurrahman Wahid, lebih akrab dipanggil Gus Dur, menerima saya di kantornya, di lantai dasar gedung baru Nahdlatul Ulama (NU) di Jalan Kramat Raya, jalan yang selalu padat lalu lintas di Jakarta. Dia menerima saya dengan penuh senyum sebagai seorang sahabat yang telah lama saling kenal. Persahabatan kami sudah sekitar dua puluhan tahun. Kami bertemu pada tahun 1990, setelah pertemuan para pemuka agama-agama dunia di Assisi. Kami dari Komunitas Sant’Egidio menjelajahi Asia untuk bertemu para tokoh agama-agama yang berkeinginan meneruskan semangat perdamaian yang telah dimulai di Assisi.

Sejak awal tahun 80-an, Gus Dur sudah menjadi pemimpin NU, organisasi Islam terbesar di seluruh dunia dengan 40 juta pengikut. Salah satu hal yang pertama-tama dijelaskannya kepada saya adalah mengenai Anggaran Dasar NU, yang sudah ada sebelum berdirinya Negara Indonesia. Pengaruh NU, seperti halnya pengaruh organisasi keagamaan yang lain, merambah luas mempengaruhi struktur organisasi masyarakat Indonesia, struktur pendidikan (dengan pondok-pondok pesantren), struktur penanganan kesehatan masyarakat, dan struktur pemerintahan di desa-desa.

Sudah sejak awal zaman Soeharto, Gus Dur merupakan satu-satunya ‘suara bebas’ di negeri ini, yang bersuara lantang membela yang kecil dengan menyuarakan keadilan dan demokrasi. Saya menemuinya setiap kali saya datang ke Indonesia, dua-tiga kali setahun. Rumahnya selalu terbuka.

Bagi saya, Gus Dur merupakan seorang guru. Dia mengajari saya banyak hal mengenai negara yang besar ini: budayanya, agama-agamanya. Dia telah memberikan kunci untuk pemahaman langkah-langkah sejarah penting dari negeri ini, beserta perjalanannya yang penuh ketegangan sebagai tempat percampuran etnik, budaya, dan agama.

Dalam perjalanan waktu, persahabatan kami semakin diperdalam. Beberapa kali Gus Dur mengunjungi Komunitas induk Sant’Egidio di Roma, dimana dia merasakan seperti di rumah sendiri, sampai-sampai dia selalu menggunakannya sebagai tempat konferensi persnya di Italia, baik sebelum maupun setelah menjadi presiden. Gus Dur sangat terkesan dengan apa yang dilakukan Komunitas Sant’Egidio untuk perdamaian. Setiap kali saya bertemu dengannya, dia pasti menanyakan kabar Andrea Riccardi, pendiri komunitas kami. “Kita butuh orang-orang seperti Andrea Riccardi,” demikian kalimat yang selalu diulanginya.

Beberapa kali Gus Dur berpartisipasi dalam Doa untuk Perdamaian yang diprakarsai Komunitas Sant’Egidio, seperti yang pernah dihadirinya di Barcelona dan Roma. Dia juga berpartisipasi aktif dalam pertemuan dialog antara pemuka-pemuka Islam dan para wakil agama-agama sedunia.

Setelah menjadi presiden pun, dia tetap selalu menjadi sahabat yang dekat dengan kami. Pemerintahannya berakhir di tengah berbagai kesulitan, namun Gus Dur bukan tipe orang yang mudah putus asa. Dia terus menjadi pemimpin keagamaan, pemimpin moral dan pembela mereka yang lemah. Setiap kali agama dijadikan alasan untuk tindak kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan wewenang, Gus Dur selalu berpihak pada korban. Umat Kristiani tahu betul hal ini dan bersatu dengannya.

Ketika Komunitas Sant’Egidio mulai mengumpulkan tanda tangan untuk meminta penangguhan segala eksekusi hukuman mati dengan sasaran untuk mencapai penghapusan penuh hukuman mati, Gus Dur termasuk di antara yang pertama menandatangani. Kita juga tidak lupa akan usahanya untuk menyelamatkan nyawa Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu, yang dieksekusi pada 22 September 2006.

Gus Dur juga seorang pribadi yang percaya teguh akan kekuatan doa. Saya masih ingat benar. Suatu hari Gus Dur mengikuti pertemuan kecil dengan mereka yang datang ke Gus Dur untuk meminta nasihat dan bantuan. Ia berbicara dengan sangat personal dan berbeda-beda. Kepada seorang ibu, dia memberikan uang untuk sewa rumah. Kepada seorang ibu lagi dengan permintaan yang kurang lebih sama, Gus Dur menyuruh orang itu menulis sebuah doa di atas kertas karton dan menyuruhnya membaca ulang sebelas kali tiap hari. “Hanya ini?” tanya ibu itu dengan penuh harapan akan mendapatkan bantuan material.

Saat itulah, untuk pertama kalinya dan yang terakhir kalinya, saya mendengar Gus Dur menjawab dengan kata-kata yang tajam, “Ibu, kalau Ibu tidak percaya dengan kekuatan doa, mengapa datang ke sini? Berdoalah dengan penuh kepercayaan, situasinya akan teratasi!”

Masih banyak hal yang bisa diceritakan mengenai pribadi yang dengan kesederhanaannya telah mengubah perjalanan sejarah bangsanya, dengan meletakkan pada tempat pertama dialog, pemahaman di antara penganut agama yang berbeda-beda, dan perjuangan untuk perdamaian. Saya senang mengingatnya sebagai sahabat Allah dan sahabat manusia.

Penulis adalah Koordinator Komunitas Sant’Egidio induk di Roma untuk Komunitas-komunitas Sant’Egidio di wilayah Asia Timur.